Jambi.WahanaNews.Co| Ada apa dengan Camat Renah Mendaluh Suhardi yang nekad melaksanakan Upacara Peringatan Detik-detik Proklamasi di lokasi yang jelas-jelas merupakan daerah yang lahir setelah kemerdekaan?. Pertanyaan ini tidak bisa dianggap main-main karena terlontar dari Tokoh-tokoh masyarakat dan Tokoh adat Desa Lubuk Kambing yang merasa sangat kecewa akibat ulah camat yang melaksanakan Upacara HUT RI Ke-81 tidak di desa mereka melainkan di SP 2 Desa Lampisi.
Lubuk Kambing selain desa tertua, pusat pemerintahan dan ibukota kecamatan, juga merupakan pusat perjuangan dalam upaya merebut serta mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia khususnya di wilayah Kecamatan Renah Mendaluh. Para tokoh masyarakat dan tokoh adat sangat menyayangkan sikap abai camat tersebut.
Baca Juga:
KEK Kura Kura Bali Buka Pasar Global bagi IKM, MARTABAT Prabowo-Gibran: Model Pemberdayaan yang Perlu Diperluas
"Kami menilai camat suhardi telah mengabaikan kode etik kebangsaan dan perjuangan para pendahulu desa. Padahal camat itu putra daerah, tapi ibarat kato, lah kalah pulo limau dek benalu. Ini contoh kecil pemimpin yang tidak punya kredibilitas, jati diri dan penghianat kemerdekaan bagi lubuk kambing", ungkap datuk Alwi salah satu tokoh masyarakat.
Lebih lanjut, datuk Alwi menambahkan sikap dan tindakan camat suhardi tersebut secara umum dinilai telah menyalahi etika berbangsa dan bernegara. Kalau seperti ini kata datuk, harga diri masyarakat Lubuk kambing telah diinjak-injak karena sudah tidak sesuai dengan pepatah adat yang sampai saat ini dipedomani yaitu dimano bumi dipijak disitu langit dijunjung, dimano aik diciduk, disitu pulo ranting dipatahkan. Bahkan kedepannya, peristiwa ini (jika dibiarkan) di tahun-tahun yang akan datang akan menjadi contoh dan teladan yang buruk.
"Ibarat kato, anak tuo cucung tuo, kejadian ini akan menjadi dasar sekaligus referensi untuk generasi yang akan datang. Kedepannya bisa jadi upacara HUT RI bisa dilaksanakan dimana saja dan tidak menutup kemungkinan bahkan ibu kota kecamatan pun bakal bisa dipindah-pindah akibat pembiaran dan sikap abai camat ini. Sangat kami sayangkan karena kalau hal seperti ini saja diacuhkan, dianggap sepele, bakal berkembang biak perangai pendatang nak merajo-rajo di kampung rajo dan akan meraso di atas angin. Kecak betis nak betis, kecak lengan bak lengan, dak sehebat awak lagi orang-orang pribumi yang kalau mengingat sejarah, lubuk kambing ini tanah tumpah darah pejuang melawan penjajah ratusan tahun yang lalu, " Bebernya dengan bahasa dan logat pribumi yang khas. [yg]