Jambi.WahanaNews.Co| Kekhidmatan prosesi adat mendadak berganti menjadi riuh perbincangan. Sabtu siang, 27 Juni 2026 itu, di Kedaton Keagungan Lampung, perhatian publik tidak lagi terpaku pada barisan kain tapis emas atau gelar kehormatan yang disematkan oleh lima kerajaan adat kepada Presiden ke-7 RI, Joko Widodo.
Sorot kamera dan pandangan ratusan pasang mata justru tertuju pada sebuah momen yang berlangsung hanya beberapa menit: kedua kaki Jokowi berdiri, menginjak sebuah kepala kerbau.
Baca Juga:
UNJA Wisuda 1007 Lulusan dalam Rapat Terbuka Senat ke-117, Rektor Titip Pesan untuk Alumni
Di hadapan para penyimbang adat dan tamu agung yang hadir, ritual itu berlalu begitu cepat. Namun, efek kejutnya di ruang publik bertahan jauh lebih lama. Hanya dalam hitungan menit, potongan video dan foto aksi "Jokowi menginjak kepala kerbau" langsung melesat menjadi trending topic di jagat maya, memantik perdebatan hangat yang liar.
Apa makna sesungguhnya di balik ritual ekstrem tersebut? Apakah ini sekadar ritus pembersihan diri dalam pakem adat Lampung, atau ada pesan geopolitik-kultural yang sengaja ditiupkan ke udara?
Hingga tabuh talo balak (gamelan Lampung) berhenti bertalu, Jokowi memilih setumpuk rasa penasaran publik tetap menggantung. Mantan wali kota Solo itu irit bicara, tak memberikan satu patah kata pun mengenai makna spiritual dari apa yang baru saja dilakukannya.
Baca Juga:
UNJA dan Rumah Amal Assalam Salurkan Beasiswa Orang Tua Asuh kepada 43 Mahasiswa
Setali tiga uang, pihak panitia dan pemangku Kedaton Keagungan pun belum merilis keterangan filosofis resmi. Ruang hampa informasi inilah yang kemudian digoreng netizen dan pengamat menjadi bola liar.
Bagi publik, setiap gerak-gerik Jokowi pasca-lengser dari kursi RI-1 selalu dinilai memiliki "berat jenis" politik yang tinggi. Di tengah dinamika politik nasional yang masih kerap berporos pada dirinya, sebuah simbol sekecil apa pun?"apalagi seekstrim menginjak kepala kerbau?"hampir mustahil dibaca sebagai ketidaksengajaan.
Ada yang mengaitkannya dengan simbol penaklukan ego, ada pula yang membacanya dengan kacamata kekuasaan. Sumber: Rmol.id[Yosua Gultom]