Jambi.WahanaNews.Co | Komitmen masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan kembali ditunjukkan melalui aksi bersih Danau Sipin yang digelar pada Senin pagi, 30 Maret 2026. Kegiatan yang diinisiasi oleh komunitas peduli Danau Sipin bersama warga setempat ini menjadi simbol kepedulian sekaligus bentuk keprihatinan terhadap kondisi salah satu ikon alam Kota Jambi tersebut.
Dalam wawancara bersama elangnusantara.com, inisiator kegiatan, Jhon Hendri, menegaskan bahwa Danau Sipin bukan sekadar bentang alam biasa. Ia menyebut danau ini memiliki karakteristik yang sangat langka di Indonesia, yakni berada di tengah kawasan perkotaan dengan panjang mencapai kurang lebih 9.000 meter dan lebar berkisar antara 200 hingga 300 meter.
Baca Juga:
Mulai April 2026 ASN WFH Setiap Jumat, Begini Aturannya
Menurutnya, dengan posisi strategis dan bentang alam yang luas, Danau Sipin sangat potensial untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata unggulan, tidak hanya di tingkat lokal dan nasional, tetapi juga berpeluang menembus pasar internasional.
“Danau Sipin ini memiliki daya tarik yang sangat kuat. Jika dikelola dengan konsep yang matang dan berkelanjutan, bukan tidak mungkin bisa menjadi destinasi wisata berkelas dunia. Dampaknya tentu sangat besar, baik dalam meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar maupun dalam mendorong peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Jambi,” ujar Jhon.
Namun, potensi besar tersebut saat ini masih dihadapkan pada persoalan klasik yang belum terselesaikan secara tuntas, yakni masalah sampah. Berdasarkan pengamatan di lapangan, volume sampah yang masuk ke kawasan Danau Sipin diperkirakan mencapai 2 hingga 3 ton per hari.
Baca Juga:
Rupiah Sentuh Rekor Terlemah, Pelaku Usaha Teriak Beban Kian Berat
Jenis sampah yang mendominasi antara lain limbah rumah tangga seperti plastik, styrofoam, popok sekali pakai, serta material organik seperti rumput liar dan eceng gondok yang tumbuh tak terkendali. Kondisi ini tidak hanya merusak estetika, tetapi juga berpotensi mengganggu ekosistem perairan.
Jhon menjelaskan, sebagian besar sampah tersebut berasal dari aliran Sungai Kambang yang bermuara ke Danau Sipin. Situasi diperparah dengan tidak berfungsinya pintu air, sehingga sampah dari hulu terus mengalir tanpa adanya sistem penyaringan atau pengendalian yang efektif.
“Selama pintu air tidak berfungsi, maka sampah akan terus masuk tanpa henti. Ini persoalan mendasar yang harus segera ditangani jika kita serius ingin menjadikan Danau Sipin sebagai kawasan wisata unggulan,” tegasnya.