Lebih jauh, ia juga menyoroti lambannya respon dari pemerintah daerah, baik di tingkat kota maupun provinsi. Menurutnya, berbagai laporan dan upaya komunikasi yang telah dilakukan oleh komunitas selama ini belum mendapatkan tindak lanjut yang maksimal.
“Kami sudah berulang kali menyampaikan kondisi ini kepada pihak terkait. Namun, respon yang kami terima masih sangat terbatas. Bahkan terkesan ada pembiaran terhadap persoalan yang seharusnya menjadi prioritas bersama,” ungkapnya.
Baca Juga:
Macron Berseberangan dengan Trump, Kapal Prancis Lolos di Selat Hormuz
Di sisi lain, keterbatasan sarana dan prasarana menjadi kendala nyata dalam upaya penanganan sampah secara mandiri oleh masyarakat. Jhon mengungkapkan bahwa komunitas tidak memiliki peralatan yang memadai, seperti perahu atau boat untuk mengangkut sampah dari tengah danau, maupun kendaraan operasional darat untuk distribusi dan pembuangan akhir.
“Kami bergerak dengan segala keterbatasan. Tidak ada boat, tidak ada armada pengangkut. Padahal volume sampah setiap hari sangat besar. Ini tentu tidak bisa hanya mengandalkan swadaya masyarakat,” jelasnya.
Meski demikian, ia mengapresiasi tingkat kepedulian masyarakat sekitar yang dinilai sudah cukup baik. Partisipasi warga dalam kegiatan bersih-bersih menunjukkan adanya kesadaran kolektif, meskipun diakuinya masih terdapat sebagian masyarakat yang belum sepenuhnya memahami pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.
Baca Juga:
Bantah Pernyataan Trump, IRGC Pastikan Berhasil Rontokkan 2 Jet Tempur AS
Sebagai langkah ke depan, Jhon menekankan pentingnya sinergi lintas sektor dalam pengelolaan Danau Sipin. Ia berharap seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang memiliki keterkaitan dapat bekerja secara terintegrasi, mulai dari Dinas Pariwisata, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), PUPR, Disperindag, hingga sektor pertanian dan perikanan.
Menurutnya, jika kolaborasi tersebut dapat terwujud, maka pengembangan Danau Sipin tidak hanya berhenti pada penataan lingkungan, tetapi juga dapat menghadirkan berbagai atraksi wisata yang menarik dan bernilai ekonomi tinggi.
“Banyak potensi yang bisa dikembangkan di sini, seperti jet ski, banana boat, paralayang, ketinting, bahkan kereta gantung dan flying fox. Tinggal bagaimana keseriusan semua pihak untuk mengelolanya secara profesional dan berkelanjutan,” paparnya.