“Ada sekitar 14.000 sarjana yang masih menganggur. Ini harus menjadi perhatian serius. Kita harus mampu membaca perkembangan digital dan beradaptasi dengan kemajuan teknologi,” katanya.
Ia mengungkapkan bahwa mahasiswa harus menerima fakta bahwa setelah lulus pasti mencari pekerjaan ataupun menjadi buruh.
Baca Juga:
Ramai di Medsos, Status Ayu Aulia di GBN-MI Dijelaskan
"Para mahasiswa harus melawan, berjuang bersama para buruh mengubah nasib dan regulasi yang menindas. Karena kedepan bisa jadi kita yang akan jadi buruh, jika kita tidak berjuang, kita juga akan ditindas kelak," tegasnya.
Sementara itu, Zikri Ramadhan mengkritik kondisi beberapa elemen serikat buruh yang dinilai tidak lagi independen.
“Serikat buruh hari ini cenderung ‘berselingkuh’ dengan penguasa dan pemerintah, sehingga tidak lagi murni memperjuangkan kepentingan buruh,” ungkapnya.
Baca Juga:
Marak Buka Donasi untuk Bencana di Medsos, Mensos Ingatkan Hal Ini
Ia berharap pemimpin-pemimpin serika buruh di Indonesia khususnya di Provinsi Jambi tidak terlalu mesra dengan penguasa.
"Akan tetapi, saya juga mengapresiasi perjuangan serikat-serikat buruh yang kini banyak membuah hasil yang berpihak pada buruh," pungkasnya.
Diskusi yang dimoderatori Muhammad Zaki ini pun berlangsung dinamis dan berjalan dua arah dengan melibatkan berbagai pandangan dari peserta. Dari hasil pertukaran gagasan tersebut, forum mencapai kesimpulan bahwa May Day masih layak untuk terus dirayakan.