Menurutnya, industri sawit telah menyumbang devisa negara lebih dari Rp600 triliun, mengurangi impor hingga lebih dari Rp400 triliun, serta membantu menahan emisi karbon sekitar 32 juta ton CO2e per tahun.
Selain itu, sektor sawit juga menjadi sumber penghidupan bagi sekitar 16,5 juta tenaga kerja. Jika setiap pekerja memiliki empat anggota keluarga, maka sedikitnya 66 juta jiwa menggantungkan hidupnya pada industri sawit.
Baca Juga:
Neraca Perdagangan Indonesia Surplus 72 Bulan Beruntun, Ekspor April 2026 Melonjak Hampir 22 Persen
“Selama ini masyarakat hanya mengenal sawit sebagai bahan baku minyak goreng. Padahal, buah sawit juga bisa diolah menjadi berbagai makanan yang mengandung vitamin dan nutrisi tinggi,” ujar Warsito.
Salah satu sosok yang berhasil membuktikan potensi tersebut adalah Iin Arlina. Perempuan berusia 55 tahun asal Muaro Bungo itu mulai mengembangkan pangan berbasis sawit sejak 2014.
Ide tersebut lahir dari pengamatan sederhana terhadap ayam peliharaannya yang dilepas di kebun sawit milik keluarga. Ayam-ayam itu memakan brondolan sawit matang yang jatuh ke tanah dan tumbuh lebih sehat.
Baca Juga:
Mendag Saksikan Penandatanganan MoU Imbal Dagang Indonesia-Filipina Senilai Rp 6,29 Triliun
Dari situlah rasa penasaran muncul. Jika sawit dapat dikonsumsi hewan, mungkinkah juga diolah menjadi makanan yang aman dan bernilai bagi manusia?
Berbekal keyakinan tersebut, Iin mulai bereksperimen. Perjalanannya tidak mudah. Berbagai percobaan dilakukan dengan biaya yang tidak sedikit. Bahkan, jemarinya beberapa kali terluka akibat duri tajam tandan sawit saat mencari formulasi yang tepat.
Kegigihan Iin yang tidak mengenal kata "menyerah" tersebut akhirnya membuahkan hasil.