Jambi.WahanaNews.Co| Publik dikejutkan dengan kondisi Kebun Bukit Kausar milik PTPN IV Regional Bukit Kausar di Desa Merlung, Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Alih-alih rapi dan produktif, ribuan hektare kebun milik negara itu kini berubah menjadi rimba belantara.
Kondisi ini memunculkan dugaan kuat adanya skandal anggaran fiktif. Sebab berdasarkan RAB, kebun tersebut menerima dana perawatan rutin mencapai 1 Rp Miliar per tahun.
Baca Juga:
Lawan atau Mati Dibodohi: DPW Serbuk Jambi Buka Kelas Paralegal 6 Bulan Tahun 2026
Fakta di lapangan bertolak belakang 180 derajat dengan laporan di atas kertas. Pantauan, gulma dan anak kayu tumbuh setinggi lebih dari 3 meter. Barisan tanaman sawit tidak terlihat akibat tertutup semak.
"Kami heran, faktanya ada dana ratusan juta untuk semprot gulma dan pruning. Tapi lihat sendiri, ini sudah kayak hutan. Sejak kapan disemprot?" ujar warga Desa Merlung Ardiansyah sewaktu dijumpai media wahana news.co dilokasi.
Pos anggaran yang seharusnya direalisasikan meliputi Pemupukan, Pengendalian Gulma, Pruning, dan Perawatan Jalan Produksi. Namun seluruhnya tidak terlihat hasilnya.
Baca Juga:
Andreas Hugo Pareira: Urus Badan Usaha Kini Semudah Genggaman, Mahasiswa STIPER Ditantang Jadi Pengusaha Legal dan Berdaya Saing
Menyikapi hal ini, salah seorang aktivis 98, Joni Hutagaol dr LSM Development Of Goverment ( DOGER) jambi mendesak Kejaksaan Tinggi Jambi, Kejaksaan Negeri Tanjabbar, dan KPK RI segera melakukan penyelidikan.
"Ini jelas indikasi anggaran fiktif. Uangnya dicairkan, tapi pekerjaannya tidak ada. Ini sudah merugikan keuangan negara dan harus diusut tuntas. Jangan-jangan ini skandal baru BUMN," tegasnya.
Joni juga menambahkan ,Kebun PT BUKIT KAUSAR ini aset negara, kalau aggarannya ada tapi kebun nya dibiarkan mati, itu sudah merugikan keuangan negara, kami meminta APH tegas, jangan sampai uang rakyat habis tanpa hasil, dan kondisi ini berpotensi masuk pasal 2 dan pasal 3 UU no 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak pidana Korupsi ( TIPIKOR)