Narasi “membubarkan DPR” mungkin memang terdengar heroik, radikal, bahkan revolusioner. Tetapi sejarah menunjukkan bahwa langkah itu lebih sering membuka jalan ke otoritarianisme ketimbang demokrasi.
Tantangan kita hari ini bukan sesederhana melenyapkan DPR, melainkan mengembalikan ia ke khitahnya yang benar-benar menjadi wakil rakyat, bukan wakil elite. Jika elemen masyarakat bersatu untuk mengawasi dan menekan reformasi di tubuh DPR, maka demokrasi bisa tetap hidup, dan suara rakyat tak akan hilang ditelan sejarah.
Baca Juga:
Analisis Ekonomi Politik: Tuntutan Tunjangan DPR dan Akar Masalah Sistem Politik Indonesia
[Redaktur : Ados Sianturi]